Fasilitas harus sebanding dengan kualitas

Standard

Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin.

Segala pujian hanya milik Allah ta’ala. Semoga Allah ta’ala senantiasa mencurahkan sholawat serta salam kepada baginda Rasulullah Muhammad saw. dan seluruh ummatnya di seluruh alam. Amiin.

Hari demi hari ketemu mahasiswa/i, baik itu di kelas ketika waktu belajar, di jalan raya, di warung, dan berbagai tempat.

Bandung memang salah satu kota pelajar di Indonesia. Selain di dalamnya terdapat Universitas Negeri yang cukup populer, juga banyak berdiri kampus-kampus swasta yang bertebaran di mana-mana.

Sekilas penulis akan bercerita bahwa pada tahun 2000 ketika pertama kali datang ke Bandung untuk kuliah di UNIKOM, beberapa teman-teman mahasiswa yang sama-sama kuliah di jurusan Teknik Informatika sudah mulai membeli sebuah komputer (PC atau desktop). Saat itu jarang sekali yang menggunakan laptop (notebook) seperti saat ini (2009).

Banyak juga mahasiswa yang tidak punya komputer (termasuk penulis 🙂 ), sehingga penulis dan teman-teman lebih sering memanfaatkan komputer dengan cara sewa di rental komputer. Dimana harus disisihkan sebagian dari uang makan.

Kondisi umum mahasiswa saat ini, terutama di jurusan IF Unikom, banyak mahasiswa yang datang ke kampus sambil membawa laptopnya, sambil memanfaatkan hotspot gratis.

Dalam kenyataan yang penulis hadapi dulu, justru teman-teman mahasiswa yang belum memiliki komputer malah lebih kelihatan sungguh-sungguh dikarenakan takut ketinggalan sama yang punya komputer.

Sedangkan yang sudah punya komputer ada sebagian yang malah bukan buat sarana belajar, tapi buat main game, dan perkara-perkara lalai yang bukan sebagai kegiatan utama belajar.

Kondisi saat ini berbeda jauh dengan kondisi penulis ketika masih kuliah. Laptop (portable komputer) sudah tersebar dimana-mana, teknologi semakin canggih. Dampak postifinya, semakin mempermudah kita dalam mengakses informasi atau berbagi informasi dengan orang lain.

Namun, ternyata dampak negatifnya lebih dahsyat! Kemudahan mengakses informasi dimanfaatkan untuk mengakses sumber daya yang melalaikan dari tujuan utama belajar, seperti: games, movies, porn things, etc.

Secara tidak sadar “hiburan” tersebut di atas melalaikan kita dari pembelajaran yang sesungguhnya. Zaman penulis kuliah, hiburan buat kami mahasiswa hanya sebagai sarana pelampiasan kepenatan semasa kuliah untuk sementara saja. Namun saat ini seolah-olah telah menjadi maksud, yang celakanya tidak disadari oleh kaum pelajar dan pemuda kita.

Dengan alasan refreshing, para syeithon dan orang-orang “kafir” telah memasukkan benih-benih kelalaian dalam diri pemuda dan pelajar kita.

Jangankan untuk ibadah (sholat, dzikir, ngaji, dsb), untuk belajar sebagai kepentingan sekolah atau kuliahnya saja banyak yang terbengkalai.

Bahkan dari pengalaman penulis mengajar beberapa tahun di prodi Teknik Informatika UNIKOM, kualitas belajar, termasuk akhlaq pemuda/pelajar kita sudah jauh menurun dari generasi-generasi sebelumnya.

Innalillaahi wa inna ilaihi roji’uun.

Maka, maksud dan tujuan aktivitas sekolah/kuliah harus segera diperbaiki, para bapak/ibu orang tua yang sudah susah payah mencari uang untuk keperluan sekolah/kuliah anaknya banyak dilalaikan untuk perkara-perkara di luar perkuliahan, betapa dhzallimnya kita pada orang tua.

Satu-satunya cara untuk meluruskan niat para pemuda/pelajar kita, khususnya dalam kegiatan belajar mengajar, baik di sekolah maupun perkuliahan adalah dengan memperbaiki akar daripada segala permasalahan, yaitu Iman.

Dengan iman yang betul terhadap Allah ta’ala dan hari Akherat, mau tidak mau kita jadi ingat bahwa hidup di dunia hanya sementara saja, hidup di akherat selama-lamanya.

Bagi seorang pelajar, tidak mungkin mau menghabiskan waktunya untuk perkara yang sia2, apalagi tidak ada hubungannya sama sekali dengan kegiatan sekolah/kuliah.

Dengan iman yang betul dan amal sholih yang baik, akan senantiasa diingatkan bahwa harta, diri, dan waktu kita adalah titipan dari Allah swt. yang harus kita gunakan sebaik-baiknya sesuai dengan perintah Allah swt. dan sunnah Rasulullah saw.

Dengan demikian, diri kita siapapun, termasuk pemuda/pelajar kita akan lurus dalam niatnya insya Allah.

Perlu kita latih juga untuk mendirikan sholat fardhu 5 waktu berjamaah di Masjid atau dimanapun ada adzan dikumandangkan secara tepat waktu, insya Allah kedisiplinan para pemuda/pelajar kita pun akan diperbaiki oleh Allah ta’ala.

Hal ini tentu dibutuhkan contoh, teladan, dan kerja sama dari para orang tua, guru, dan dosen.

GURU = digugu dan ditiru

Jadi harus jadi panutan yang baik buat para pemuda dan para murid2nya.

Apabila seorang guru dan orang tua tidak bisa jadi contoh yang baik, na’udzubillah, maka akan semakin memperburuk kondisi (akhlaq) para pemuda/pelajar kita.

Mudah-mudahan Allah ta’ala memberi kita kemudahan dalam menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sebagaimana yang dicontohkan oleh baginda Rasulullah Muhammad saw. Amiin.

Kebenaran hanya dari Allah dan Rasul-Nya. Penulis adalah hamba yang dho’if.

Wa maa taufiqi illa billaah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.